Etiket Orang Pintar
Apakah berita-berita di media massa dapat dianggap sebagai potret sesungguhnya sebuah keadaan? Kalau dapat, benarkah Indonesia sekarang begitu carut-marut seperti dikabarkan koran, radio dan televisi? Bila benar, lalu bagaimana dengan masa depan bangsa ini?
Saya tidak bermaksud mengajak Anda pesimis dengan sederet pertanyaan tadi. Sebaliknya justru saya ingin kita semua tetap optimis. Saya sendiri sesungguhnya amat optimis bahwa kita akan memperoleh keadaan yang lebih baik. Sesuai sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa di balik kesusahan itu ada kebahagiaan.
Optimis dan kebahagian itu saya dapatkan setiap kali menengok perkembangan banyak hal, kecuali kancah politik yang selalu mengesankan kisruh itu. Pada dunia bisnis saya melihat masa depan kita. Di sana banyak generasi kelahiran akhir 1960-an dan 1970-an telah menjalankan peran-peran profesional dan manajerial yang menentukan di tempatnya bekerja. Baik itu perusahaan sendiri, perusahaan modal dalam negeri, maupun perusahaan multinasional.
Mereka membanggakan sekaligus agak mencengangkan. Mereka persis barisan muda perfilman Indonesia saat ini. Sementara anggapan umum mengatakan bahwa film nasional sudah mati, belakangan mereka muncul dengan karya bagus dan - menariknya lagi - ternyata laku keras. Anda dapat melihat sendiri betapa antrean panjang mengular terjadi di bioskop setiap penayangan Jelangkung (karya Rizal Mantovani & Jose Purnomo), Ada Apa Dengan Cinta (Rudi Soedjarwo), dan sebelumnya Petualangan Sherina (Riri Riza).
Seperti itulah angkatan muda pebisnis kita. Mereka telah membuang jauh-jauh keraguan akan kesiapan bangsa kita untuk bersaing sekaligus bersanding dengan bangsa lain di jaman global. Sebab, mereka itu orang-orang pintar dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari perguruan-perguruan tinggi terkemuka di negeri-negeri yang lebih lebih maju dan jauh dari Indonesia.
Dan, lebih membanggakan lagi adalah kesediaan mereka untuk pulang dan menggelar ilmu pengetahuannya di Tanah Air. Bukankah dengan kepandaiannya mereka sangat mungkin bekerja pada perusahaan ternama dan bergaji besar di Amerika Serikat, Jerman, Inggris, atau negara lain? Bukankah mereka setara atau mungkin lebih pintar ketimbang teman-teman di sana?
Saya amat memuji mereka yang pulang dan bicara dengan kinerja dan karya kendati Indonesia sedang susah. Tidak seperti yang dilakukan sebagian warga yang memilih kabur dan tinggal di negeri orang padahal dilahir, dibesarkan, hidup, dan telah memperoleh harta dari Indonesia.
Salah satu dari mereka yang pulang pernah bercerita bahwa sesungguhnya anak-anak Indonesia banyak yang pintar-pintar dan saat ini bekerja di perusahaan terkenal di luar negeri. "Alasannya, ilmunya belum mungkin diterapkan di sini padahal mencari gaji gede," kata sahabat muda saya yang kini memimpin sebuah kelompok usaha.
Sahabat saya ini adalah ilmuwan bidang elektronika yang beberapa tahun lalu dikirim ke Amerika Serikat oleh pemerintah untuk belajar. Sayang, dia tak dapat memenuhi cita-citanya seperi ketika awal berangkat selepas SMA di Semarang. Karena hal yang birokratis dan sepele, dia tak dapat menjadi peneliti di lembaga milik negara. Akhirnya dia memutuskan membangun bisnis pada bidang ilmunya bersama istri dan sesama anak Indonesia yang belajar di Negeri Paman Sam itu. "Nyatanya kontribusi saya buat bangsa lebih besar dengan begini karena bisnis kami beragam jenis," tuturnya.
Memang benar kata pepatah, 'Tiada gading yang tak retak'. Orang-orang seperti dia tak sempurna. Saya kerap menemukan perilaku mereka kurang nyaman diterima. Misalnya, bagaimana berkomunikasi dengan staf atau bawahan. Mereka lebih bergaya dan dengan cara orang seberang. Dan, kalau menjelaskan sesuatu tak lupa menyelipkan "Di Amerika mah," "Kalau di Jerman ....," "Orang Inggris menyebutnya ...." atau sejenisnya.
Mungkin mereka ingin terlihat hebat dan pantas dipandang, tetapi sesungguhnya telah mengganggu adat pergaulan dan komunikasi. Sebab, orang pintar yang begitu menjadi kelihatan tinggi hati dan kurang tenggang rasa.
Ada pelajaran bagus dari Bina Antar Budaya. Lembaga penyelengara program pertukaran pelajar itu tahu betul bagaimana hidup dalam lingkungan lintas budaya. Bentuk nyatanya, mereka selalu memberi pemahaman budaya negeri di mana siswa akan tinggal untuk masa tertentu. Dan, yang lebih penting, para siswa yang pulang dari lingkup budaya luar kembali diajari bagaimana hidup di dalam masyarakat Indonesia. Seperti, mendahulukan orang tua dan sedikit membungkuk kepada orang yang dihormati kendati kendati sudah jauh lebih pintar.
Memberi pemahaman tentang budaya Indonesia kembali kelihatan sepele. Tetapi, saya melihat itu perlu diperhatikan para pebisnis muda dan pintar itu. Persoalannya bukan membandingkan satu budaya dengan yang lain, tapi memahami perbedaan budaya sebagai kenyataan yang tak dapat ditawar. Hal terpenting adalah kesediaan untuk hidup berdampingan dan tampil secara pas. Think globally - act locally.
Oleh: Mien Uno Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional

Tidak ada komentar:
Posting Komentar